Berita ::. donesia.co

Informasi Cerdas Indonesia

Fisolofi Rumah Cut Nyak Dhien dan Kisah Perlawanan pada Belanda

DONESIA.CO, BANDA ACEH — Agresi militer Belanda telah memantik nyala nasionalisme dan mengobarkan semangat jihad pribumi. Inilah yang menyebabkan banyak pejuang lahir dari Tanah Rencong. Perang melawan Belanda merupakan perang membela agama.

Hal itulah yang membuat para tentara penjajah sulit menaklukkan daerah ujung barat Indonesia. Para pahlawan nasional banyak yang lahir dari Aceh. Salah satunya srikandi perang bernama Cut Nyak Dhien.

Cut Nyak Dhien merupakan istri dari pahlawan nasional bernama Teuku Umar, yang juga sama-sama berjuang demi rakyat Aceh pada masa lampau. Teuku Umar wafat dalam satu pertempuran di Meulaboh, Aceh Barat dan dimakamkan di kota setempat.
Perlawanan dari rakyat Aceh menjadi momok menakutkan bagi militer Belanda. Apalagi, para gerilyawan Aceh punya semangat jihad yang tinggi dan terkenal tak takut mati walau dengan senjata tradisional.

Saat perang berkecamuk, Belanda harus merelakan empat nyawa dan ribuan prajuritnya di tangan para pejuang Aceh. Hingga Belanda geram dan terus mencari keberadaan Cut Nyak Dhien dan pengikutnya.

Setelah sang suami tercinta wafat, Cut Nyak Dhien melanjutkan perjuangan suami dan rakyat Aceh pada saat itu. Seorang wanita Aceh yang tangguh dan berani memimpin perang Aceh hingga usia senja.

Dalam suatu pertempuran penjajah Belanda mengetahui persembunyian Cut Nyak Dhien dan pengikutnya. Namun akhirnya, srikandi dari Aceh itu ditangkap dan diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat. Hingga wafat ia tetap berada di sana. Cut Nyak Dhien tutup usia dalam umur 60 tahun (1848-1908).

Jejak dan sejarah peninggalan srikandi Aceh Cut Nyak Dhien masih bisa dilihat dirumah peninggalannya. Rumah ini merupakan hibah dari Belanda pada tahun 1893, karena pada saat itu sang suami Teuku Umar mengatur srategi perang dengan membelot ke pihak penjajah.
Rumah itu tak bertahan lama, sekitar tiga tahun setelah dibangun, rumah tersebut dibakar oleh tentara Belanda, karena penjajah mendapati Teuku Umar tidak patuh dan kembali memimpin perang Aceh.

Rumah Cut Nyak Dhien yang dibangun oleh pemerintah Aceh untuk mengenang sejarah Cut Nyak Dhien. Di sana kita bisa melihat berbagai barang peninggalan Cut Nyak Dhien yang masih terawat.

Seperti ditulis analisadaily.com, Lokasi situs sejarah Rumoh Cut Nyak Dhien berada di Jalan Banda Aceh-Meulaboh Km 8 Desa Lampisang, Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Jarak tempuh dari pusat Kota Banda Aceh sekitar 11 Km atau sekitar 20 menit perjalanan darat ke arah Barat Selatan Provinsi Aceh.

Beberapa peninggalan masih tersedia di sana, seperti pedang, parang, rencong, tombak, kursi ruang sidang, meja makan, kasur tempat tidur, dan foto-foto suasana penjajahan yang diambil dari museum Leiden, Belanda.

Rumah panggung berukuran 25 x 17 meter berkonstruksi kayu dan beratap rumbia ini tak ubahnya dengan rumah adat Aceh. Bagunan Rumah Cut Nyak Dhien tak dibangun asal-asalan, melainkan memiliki filosofi disetiap sudut ruangan yang ada.

Menurut penuturan Zahri, selaku juru pelihara Cut Nyak Dhien, ia mengaku bahwa Rumah Cut Nyak Dhien sarat dengan filosofi keislaman. Ia menjelaskan disetiap sudut dan arsitektur rumah tersebut memiliki makna yang berkaitan dengan agama islam.
“Cut Nyak Dhien merupakan arsitek dari rumah ini, beliau membangun rumah ini ada maksud dan tujuan dalam agama. Yaitu seni ataupun simbolik tentang islam,” ujar Zahri, Kamis (13/2).

Seperti rumah pada umumnya, yang harus memiliki tiang untuk penyangga bangunan. Rumah peninggalan Cut Nyak Dhien juga mempunyai tiang yang bermakna tentang islam.

“Jumlah tiang ada 65, yang bermakna jumlah dari rukun islam dan rukun iman. Kemudian ruangannya berjumlah 10 bermakna lambang para malaikat, jendelanya berjumlah 25 lambang para nabi, anak tangga berjumlah 7 bermakna anggota sujud, atapnya dari daun rumbia melambangkan kesejukan, susunan atap berjarak 5 cm bermakna menjunjung tinggi 5 rukun islam, jumlah lembaran atap sama dengan jumlah ayat Alquran,” jelasnya.

Ketika masuk ke dalam rumah, kita bisa melihat nuansa tradisional khas zaman dahulu, di mana perabotan berjenis jepara berjejer rapi dibeberapa ruang dan sudut rumah.

Semburat warna kuning dan hitam mendominasi rumah serta jendelanya, beberapa foto zaman dahulu juga terpajang rapi di dinding kayu dengan keterangan foto dalam dua bahasa yakni Indonesia dan Inggris.

Di bagian dapur kita juga bisa melihat koleksi senjata tajam dibalik lemari kaca yang digunakan saat perang melawan penjajah. Selain itu, juga ada beberapa kamar untuk dayang-dayang serta kamar Cut Nyak Dhien sendiri.

Di dalamnya berisi kasur beserta bantal di atasnya bertulis “Dilarang Duduk”. Juga tak ketinggalan pelaminan sederhana khas adat Aceh. Selain ruang tamu dan ruang dapur, Rumah Cut Nyak Dhien juga memiliki ruang sidang.

Menurut beberapa literatur, ruangan sidang tersebut digunakan untuk mengambil kebijakan atau mengatur siasat perang melawan penjajah.

Salah satu pengunjung asal Negeri Jiran Malaysia, Asmahani, mengaku terharu dengan kisah dan perjuangan Cut Nyak Dhien dalam berperang melawan penjajah. Dengan mata berlinang, ia menyampaikan rasa takjub dengan sosok srikandi Aceh, Cut Nyak Dhien.

“Kite lihat dari penerangan (penjelasan) tadi, perjuangan mereka sangat luar biasa, membuat kita sangat terharu. Sekurang-kurangnya kita yang generasi sekarang harus tahu apa yang telah dilakukan oleh generasi dahulu untuk kita sekarang, walaupun saya ni asalnya dari Malaysia tapi kesannya sangat menyentuh jiwa,” ungkapnya dalam logat Malaysia.

Situs wisata cagar budaya Rumah Cut Nyak Dhien dibuka setiap hari mulai pukul 09.00 WIB hingga 16.00 WIB. Meski tak dibebankan biaya tiket masuk, akan tetapi pemelihara Rumah Cut Nyak Dhien meletakkan celengan infaq seikhlas hati dari pengunjung yang datang. (sid/analisadaily.com)